Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.

Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.
Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. Mazmur 119:164

Bacaan Alternatif & Devosi: Rabu, 3 April 2019


Rabu, 3 April 2019
PEKAN IV PRAPASKAH – O PEKAN IV
HARI BIASA PEKAN IV PRAPASKAH (U)

Bacaan Alternatif & Devosi: 23.00 – 00.00
JAM KETIGA - PENDERITAAN DI TAMAN GETSEMANI (+ 27 menit)

--------
Alternatif Bacaan Harian, sambil berdoa dan berdevosi yang sangat menyenangkan Hati Yesus.
… " Jam-jam ini adalah yang paling berharga dari semuanya, karena itu semua tidak lebih dari pengulangan dari apa yang Aku lakukan dalam perjalanan hidup fana-Ku, dan apa yang terus Ku-lakukan dalam Sakramen Mahakudus. Ketika Aku mendengar Jam-jam Sengsara-Ku ini, Aku mendengar suara-Ku sendiri, doa-doa-Ku sendiri. Dalam jiwa itu Aku melihat Kehendak-Ku - yaitu menginginkan kebaikan bagi semua dan untuk memperbaiki semua - dan Aku merasa tertarik untuk tinggal di dalam dirinya, untuk dapat melakukan apa yang dia sendiri lakukan di dalam dirinya. Oh, betapa Aku akan mencintai bahkan satu jiwa pun untuk setiap kota melakukan Jam Jam Kesukaanku ini! Aku akan mendengar Diri-Ku di setiap kota, dan Keadilan-Ku, murka selama waktu ini, akan ditenangkan sebagian. "
- Lompati membaca bagian ini jika anda telah pernah membacanya, langsunglah masuk ke Doa Persiapan Awal.
--------

DOA PERSIAPAN AWAL

O Tuhan Yesus Kristus-ku, tersungkur di hadirat Ilahi-MU, aku memohon pada Hati-MU yang sungguh mengasihi untuk mengijinkan aku untuk masuk ke dalam renungan sedih akan 24 jam Sengsara-MU, dimana, demi cinta kepada kami Engkau mau menderita sedemikian besarnya yang dialami oleh Tubuh-MU yang layak di sembah itu dan dialami oleh Jiwa-MU yang Maha Kudus, bahkan sampai kematian di salib. O berikanlah aku pertolongan, rahmat, cinta, hasrat yang sungguh-sungguh dan pengertian akan sengsara-sengsara-MU saat aku melakukan renungan Jam ini.

Untuk jam-jam dimana aku tidak dapat merenungkannya, aku mempersembahkan pada-MU niat yang kumiliki untuk merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut; dan aku mohon untuk merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut dengan niatku selama jam-jam dimana aku harus mendedikasikan diriku untuk tugas-tugasku atau untuk tidur.

Terimalah, O Tuhan yang penuh belas kasih, niat cintaku ini, dan biarlah bermanfaat bagiku dan bagi semua, sebagaimana aku dengan cara yang efektif dan cara yang kudus mencapai apa yang ingin kulakukan.

Aku bersyukur kepada-MU, O Yesus-ku. Aku berterimakasih pada-MU karena Engkau telah memanggil aku untuk bersatu dengan Engkau di dalam doa. Untuk menyenangkan-MU, aku mengambil Pikiran-pikiran-MU, Lidah-MU dan Hati-MU. Aku ingin berdoa dengan semuanya itu. Aku ingin menggabungkan diriku di dalam kehendak-MU dan di dalam Cinta-MU. Aku merentangkan tangan-tanganku untuk memeluk Engkau, aku meletakkan kepalaku di Hati-MU – dan aku memulai…

Tiga jam Menderita di Taman Getsemani

Doa Pembukaan

O Penebus Ilahi-ku, Yesus, kumohon bawalah aku bersama-MU, bersama tiga rasul terkasih-MU, untuk membantu-MU saat Engkau menderita di Taman Zaitun. Diingatkan oleh teguran manis yang Engkau berikan kepada Petrus dan dua murid lainnya yang tertidur, aku ingin tetap terjaga setidaknya satu jam dengan Engkau di Getsemani; aku ingin merasakan setidaknya satu kesakitan yang tajam di Hati-MU yang menderita, satu susah payah desahan nafas-MU.

Aku ingin mengarahkan pandanganku pada Wajah Ilahi-MU dan merenungkan bagaimana Wajah-MU menjadi pucat, bagaimana Wajah-MU tersusahkan, bagaimana Wajah-MU tertindas oleh kesedihan, bagaimana Engkau membungkuk rendah, bahkan sampai ke debu! Wahai penderitaan Yesus-ku, aku sudah melihat-MU terhuyung dan jatuh, sekarang ke kiri dan sekarang ke kanan. Aku melihat Engkau memautkan tangan-MU yang mengasihi dan terlumpuhkan. Aku mulai mendengar rintihan-MU, tangisan rasa sakit-MU yang tidak bisa dimengerti yang Engkau angkat ke surga. Ya, Yesus, yang menderita di Taman Getsemani yang suram, pada saat ini aku akan menemanimu, membuat percikan, aliran darah yang patut disembah mengalir padaku, yang mengalir dari semua anggota-Mu yang patut disembah.

O mandi yang paling berharga dari kebaikan terbesar yang kumiliki, Yesus, yang sangat menderita bagiku, biarkan aku meminum Engkau sampai tetes terakhir, dan bersama-MU, meminum setidaknya satu teguk piala pahit Kekasihku. Biarkan aku merasakan di dalam diriku rasa sakit Hati-NYA yang ilahi. Sungguh, biarkan aku merasakan hatiku hancur oleh kesedihan karena telah menyinggung perasaan Tuhanku, yang merendahkan Diri-NYA hingga pada sengsara kematian bagiku.

Ya, Yesus-ku, berikanlah aku rahmat, tolonglah aku untuk menderita, mengeluh dan menangis bersama-MU, paling tidak sedikit saja pada satu jam di dalam Taman Zaitun. O Bunda yang berduka, Maria, buatlah aku merasakan kesedihan hatimu yang tersayat bagi Yesus yang menderita di Getsemani.

-----

JAM KETIGA - PENDERITAAN DI TAMAN GETSEMANI

Yesusku terkasih, hatiku tak lagi sanggup menahan: aku melihat Engkau dan melihat Engkau terus tersiksa. Aliran-aliran darah yang mengalir di Tubuh-Mu, begitu derasnya hingga tak dapat menahannya lagi, Engkau jatuh ke dalam genangan darah. O Cintaku, hatiku hancur melihat Engkau begitu lemah dan kelelahan! Wajah-Mu yang patut disembah dan tangan-tangan kreatif-Mu terkulai di tanah dan ternoda oleh darah. Tampak bagiku sungai-sungai kedurhakaan yang dikirimkan para mahkluk kepada-Mu, Engkau ingin memberikan sungai-sungai darah untuk menenggelamkan pelanggaran-pelanggaran ini di dalamnya, dan dengan ini, memberikan setiap mahkluk, kepastian akan pengampunan.

Tetapi, kumohon, O Yesus-ku, bangkitlah; betapa Kau terlalu menderita. Biarlah itu cukup bagi Cinta-Mu! Dan ketika Yesusku tercinta tampak sekarat di dalam Darah-Nya sendiri, Cinta memberikan-Mu kehidupan baru. Aku melihat Dia kesulitan bergerak. Ia berdiri dan kuyup dengan Darah dan lumpur, Ia tampak ingin berjalan namun tidak memiliki kekuatan, Ia bahkan hampir tak dapat menarik Diri-Nya sendiri.

Hidupku yang manis, biarkanlah aku memapah-Mu di dalam lengan-lengan-Ku. Apakah Engkau ingin pergi kepada para rasul-Mu? Namun tidakkah itu akan menyedihkan lagi Hati-Mu yang patut disembah bila mendapatkan mereka tertidur lagi! Dan Kau, dengan suara gemetar dan lemah, memanggil mereka:

 “Putera-putera-Ku, janganlah tidur! Waktunya sudah dekat. Tidakkah kau melihat betapa Aku telah merendahkan Diri-Ku sendiri? Oh Kumohon, tolonglah Aku, janganlah tinggalkan Aku di waktu-waktu ekstrim ini!”

Dan hampir limbung, Engkau akan terjatuh di dekat mereka saat  Yohanes menahan-Mu dengan lengan-lengannya. Engkau sungguh tak dikenali lagi jika bukan karena kelemah-lembutan suara-Mu, mereka tidak akan mengenali-Mu. Kemudian, setelah menasehati mereka untuk berjaga dan berdoa, Engkau kembali ke taman, tetapi dengan luka kedua di Hati-Mu. Dalam luka ini, O Cinta-ku, aku melihat semua dosa jiwa-jiwa ini, walaupun Engkau mewujudkan bantuan dalam rupa cium dan belaian, di malam-malam pencobaan melupakan Cinta-Mu dan pemberian-pemberian-Mu, dan tetap demikian, mengantuk dan ingin tidur, sehingga kehilangan semangat untuk terus berdoa dan berjaga.

Yesus-ku, betapa benarnya bahwa setelah melihat-Mu dan telah mencicipi pemberian-pemberian-Mu kekuatan besar diperlukan untuk tetap berdiri tegar ketika semuanya diambil. Hanya sebuah mujizat saja yang dapat membuat jiwa-jiwa bertahan terhadap ujian. Jadi, saat aku bersimpati dengan-Mu bagi jiwa-jiwa yang tak acuh, sembrono dan pelanggaran-pelanggarannya adalah yang terpahit bagi Hati-Mu, aku mohon kepada-Mu: jika mereka akan mengambil satu langkah saja untuk tidak menyenangkan Engkau, paling tidak, lingkupi mereka dengan banyak rahmat yang akan menghentikan mereka sehingga mereka tidak akan kehilangan semangat doa yang terus menerus.

Yesusku yang lembut, ketika Engkau kembali ke taman, tampaknya seolah Kau tak dapat meneruskannya. Wajah-Mu penuh dengan darah dan kotoran, tetapi Engkau menaikkannya ke Surga dan mengulanginya untuk ketiga kalinya:

 “Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Bapa yang Kudus, tolonglah aku! Aku memerlukan penghiburan. Memang benar bahwa karena dosa-dosa yang Kuambil bagi Diri-Ku sendiri, aku merasa mual, jijik dan menjadi yang paling hina di hadapan kemuliaan-Mu yang tak terbatas. Keadilan-Mu bangkit untuk murka terhadap Aku. Tetapi lihatlah Aku, O Bapa: Aku selalu adalah Putera-Mu, yang adalah satu dengan-Mu, Kumohon, Bapa, tolonglah Aku, kasihanilah Aku! Janganlah tinggalkan Aku tanpa penghiburan!”

Kemudian tampaknya kudengar, O Cinta-ku yang lembut, memanggil pertolongan ibu-Mu:

 “Ibu yang manis, peluklah Aku erat-erat di dalam lenganmu sama seperti yang kaulakukan ketika Aku masih kanak-kanak. Berikanlah Aku susu yang pernah Kudapat darimu untuk menyegarkan Aku dan membuat manis kepahitan derita-Ku. Berikanlah Aku hati yang berisi kepuasan sempurna bagi-Ku. Ibu-Ku, Maria Magdalena, para rasul terkasih, semua kalian yang mencintai Aku: Tolonglah Aku! Hiburlah Aku! Janganlah tinggalkan Aku sendirian di saat-saat ekstrim ini. Semuanya, berkumpulah! Hiburlah Aku dengan menemani Aku dengan cinta-mu.”

Yesus, Cinta-ku, siapa yang sanggup menanggung melihat keekstriman yang sedemikian rupa? Hati mana yang sedemikian keras yang tidak hancur melihat Engkau tenggelam di dalam Darah-Mu sendiri? Siapa yang tidak akan meneteskan aliran airmata pahit, mendengarkan kata-kata kesedihan saat melihat Engkau mencari pertolongan dan penghiburan? Yesus-ku, hiburlah Diri-Mu Sendiri. Sekarang aku melihat Bapa yang mengirim seorang malaikat untuk menghibur dan membantu, agar Engkau dapat keluar dari keadaan sengsara ini dan mampu menyerahkan Diri-Mu kepada orang-orang Yahudi. Saat Engkau sedang bersama dengan malaikat itu, aku akan pergi mengelilingi surga dan bumi. Engkau akan mengijinkan aku untuk mengambil Darah yang telah Engkau tumpahkan sehingga aku dapat memberikannya kepada semua manusia sebagai perjanjian akan keselamatan setiap orang, dan membawa kembali sebagai gantinya, penghiburan akan kasih, detak-detak jantung, pikiran-pikiran, langkah-langkah dan perbuatan-perbuatan mereka.

Bunda Surgawiku, aku datang kepadamu agar bersama, kita akan pergi kepada semua jiwa untuk memberikan Darah Yesus. Bunda yang lembut, Yesus menginginkan penghiburan, dan penghiburan terbesar yang dapat kita lakukan bagi-Nya adalah membawakan-Nya jiwa-jiwa. Maria Magdalena, marilah bersama kami. Semua para malaikat, datanglah dan lihatlah betapa Yesus direndahkan. Ia menginginkan penghiburan-penghiburan dari setiap orang, dan ia mendapatkan Diri-Nya dalam keadaan tersungkur sedemikian rupa sehingga Ia tidak akan menolak siapapun.

O cahaya matahari, datanglah untuk mengusir kegelapan malam untuk memberikan Yesus penghiburan. O bintang-bintang dengan kerlipan sinarmu, turunlah dari Surga. Datanglah, untuk memberikan penghiburan. Bunga-bunga di bumi, datanglah dengan keharumanmu. Burung-burung, datanglah dengan nyanyianmu. Datanglah elemen-elemen bumi untuk menghibur Yesus. Datanglah, O laut, untuk menyegarkan dan membasuh Yesus. Dia adalah Pencipta, Hidup kita, segalanya bagi kita. Datanglah semuanya untuk menghibur Dia, untuk memberikan-Nya penghormatan sebagai Tuhan yang berkuasa.

Tetapi, oh, Yesus tidak mencari cahaya-cahaya, bintang-bintang, bunga-bunga dan burung-burung. Ia inginkan jiwa-jiwa, jiwa-jiwa! Yesusku yang baik dan lembut, di sinilah semua orang bersama aku. Ibumu terkasih berada dekatku. Mohon beristirahatlah di dalam lengannya. Itu akan menghiburnya juga, untuk mendekap-Mu pada dadanya, sebab ia telah berbagi dengan-Mu berlimpah derita kesedihan. Maria Magdalena juga berada di sini, juga jiwa-jiwa yang mengasihi sepanjang jaman. O Yesus, terimalah mereka, dan katakanlah sebuah kata pengampunan dan cinta bagi setiap orang. Ikatlah mereka semua di dalam Cinta-Mu sehingga tidak ada jiwa yang lari daripada-Mu lagi.

Tetapi, ah, tampak padaku, Engkau berkata, O Puteri, berapa jiwa lari daripada-Ku karena dorongan dan jatuh ke dalam kehancuran abadi! Jadi bagaimana kesedihan-Ku ditenangkan – jika Aku mencintai satu jiwa sebanyak Aku mencintai semua jiwa-jiwa sekaligus?


Rangkuman Penderitaan
Yesus yang sengsara, saat tampaknya bahwa Hidup-Mu akan meredup, aku telah dapat mendengar derita kematian dari Sengsara-Mu. Mata-Mu yang indah terhalang saat kematian mendekat; semua anggota kudus-Mu telah lesu. Sering kali aku mendengar Engkau tidak lagi bernafas. Hatiku merasa hancur karena rasa sakit. Aku merangkul Engkau dan merasakan bahwa Engkau kedinginan. Aku menggoncangkan Engkau tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Yesus, apakah Engkau telah mati?

Mama yang menderita, para malaikat Surga, datanglah untuk menangisi Yesus dan janganlah mengijinkan aku untuk terus hidup tanpa-Nya. Ah, aku tidak bisa! Aku mendekap-Nya lebih erat lagi pada diriku, dan aku mendengar Dia menarik nafas lagi – dan kemudian, lagi, Dia tidak memberikan tanda kehidupan! Aku memanggil-Nya: “Yesus, Yesus, Hidupku, janganlah mati!”

Namun aku telah mendengar derap langkah musuh-musuh-Mu yang datang hendak menangkap Engkau. Siapa yang akan membela Engkau dalam keadaan seperti ini?

Bangkit, Dia tampak bangkit dari kematian pada kehidupan. Ia melihat aku dan berkata:

 “Nak, apakah kau di sini? Tidakkah telah engkau saksikan kesakitan-kesakitan-Ku bagi banyak kematian yang telah Aku derita? Jadi ketahuilah, O nak, bahwa dalam tiga jam inilah merupakan sengsara-Ku yang paling pahit, Aku telah menyertakan di dalam Diri-Ku sendiri semua hidup para mahkluk dan telah menderita semua rasa sakit mereka dan kematian-kematian mereka, memberikan kepada mereka semua satu per satu Hidup-Ku. Sengsara-sengsara-Ku akan menahan mereka; demi mereka, penderitaan dan kematian-Ku akan mengubah menjadi pancuran kemanisan dan kehidupan. Betapa mahalnya jiwa bagi-Ku! Bukankah setidaknya Aku diberi balasan! Kau telah melihat bahwa saat Aku sekarat Aku akan kembali untuk bernafas lagi: itulah kematian-kematian para mahkluk yang Kurasakan di dalam-Ku!”

Yesus-ku yang terengah-engah, karena Engkau ingin menyertakan kehidupan-Ku di dalam Engkau, dan juga kematianku, aku berdoa pada-Mu, bagi sengsara-Mu yang terpahit ini, untuk datang membantu aku pada saat kematianku. Aku telah memberikan-Mu hatiku sebagai tempat pengungsian dan beristirahat, lenganku untuk menahan Engkau, dan seluruhnya aku pada-Mu; dan – oh, betapa senangnya aku memberikan diriku sendiri ke dalam musuh-musuh-Mu, untuk mati menggantikan tempatmu!

Datanglah, O kehidupan hatiku, pada saat itu, untuk mengembalikan padaku segala yang telah kuberikan pada-Mu: penyertaan-Mu, Hati-Mu sebagai pembaringan dan peristirahatan, lengan-Mu sebagai penopang, nafas keras-Mu untuk mengangkat usaha-usahaku; dengan cara demikian, di dalam bernafas, aku akan bernafas melalui nafas-Mu yang bagaikan memurnikan udara, akan memurnikan aku dari noda dan akan menaruh aku memasuki keindahan abadi.

Lebih lagi, Yesus-ku yang manis, kemudian Engkau akan memberikan Kemanusiaan-Mu yang Maha Kudus bagi jiwaku agar saat melihat aku Engkau dapat melihat aku melalui Diri-Mu sendiri; dan saat melihat Diri-Mu sendiri, Engkau tidak akan menemukan apapun untuk menghakimi aku. Kemudian engkau akan memandikan aku dengan Darah-Mu; Engkau akan memakaikan aku dengan pakaian kejujuran akan Kehendak-Mu yang Maha Kudus; Engkau akan mendadani aku dengan Cinta-Mu dan memberikanku cium yang terakhir, Engkau akan membawaku terbang dari dunia ke dalam Surga.

Dan kini aku berdoa pada-Mu untuk melakukan semuanya bagi yang sekarang, apa yang kumintakan bagi diriku sendiri. Peluklah mereka di dalam dekapan Cinta-Mu. Dan berilah mereka cium persatuan dengan Diri-Mu sendiri, selamatkanlah mereka dan janganlah biarkan satu pun terhilang.

Yesus-ku yang baik yang bersedih, aku mempersembahkan kepada-Mu jam ini di dalam kenangan akan sengsara dan kematian-Mu untuk melucuti murka Allah yang adil bagi begitu banyak pendosa dan memperolehkan pertobatan bagi semua pendosa, bagi perdamaian di antara umat manusia, bagi pengudusan kami, dan pemurnian bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

Kini aku melihat musuh-musuh-Mu mendekat, dan Engkau ingin meninggalkan aku untuk menemui mereka. Yesus, ijinkanlah aku memberikan cium erat pada bibir-Mu, dimana Yudas lancang memberikan cium pengkhianatannya. Biarlah aku menyeka Wajah-Mu yang bermandikan darah yang akan dipukuli berkali-kali dan diludahi. Dekaplah aku pada hati-Mu, dan jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Aku akan mengikuti Engkau. Berkatilah aku.


RENUNGAN DAN PRAKTEK

Dalam jam ketiga ini di dalam Taman Getsemani, Yesus meminta bantuan dari surga, dan kesakitan-Nya begitu besar sehingga sampai meminta penghiburan dari para rasul-Nya. Kini, apakah kita selalu meminta pertolongan dari surga di segala keadaan, sakit atau malang? Dan jika aku berpaling juga pada para mahkluk, apakah aku melakukannya dengan teratur, pergi kepada mereka yang dapat secara kudus memberikan penghiburan? Apakah aku paling tidak mundur jika aku tidak menerima penghiburan yang kuharapkan, menggunakan pengabaian para mahkluk untuk meninggalkan diriku sendiri secara lebih lagi di dalam tangan-tangan Yesus?

Yesus dihibur oleh seorang malaikat. Sekarang, dapatkah aku mengatakan bahwa aku adalah malaikat Yesus yang berada di dekat-Nya untuk menghibur-Nya dan mengambil bagian dari kepahitan-Nya? Agar dapat menjadi malaikat sejati bagi Yesus, aku harus menerima kesakitan-kesakitan sebagai rasa sakit yang dikirimkan padaku oleh-Nya, dengan demikian, sebagai rasa sakit yang Ilahi. Hanya dengan demikian aku berani menghibur Tuhan yang merasakan kepahitan.
Jika tidak, jika aku mengambil kesakitan dengan cara manusia, aku tidak dapat menggunakannya untuk menghibur Allah Manusia, dan dengan demikian tidak dapat menjadi malaikat-Nya.

Di dalam derita-derita yang dikirimkan Yesus padaku, tampaknya seolah Ia mengirimkan cawan itu juga, yang ke dalamnya aku harus menuangkan buah dari derita-derita ini. Dan kesakitan-kesakitan ini, diderita dengan cinta dan penyerahan, akan diubah menjadi nektar yang termanis bagi Yesus. Dan aku akan pergi pada Yesus-ku yang sengsara dan mempersembahkan-Nya cawan yang dikirimkan-Nya padaku dan kesedihan-kesedihanku sekarang berubah menjadi kemanisan. Seperti seorang malaikat, aku akan membawanya kepada bibir-Nya agar Ia meminumnya, untuk menghibur-Nya dan menenangkan-Nya. Di setiap kesedihan, aku kemudian akan berkata pada diriku sendiri, “Yesus memanggil aku menjadi seorang malaikat yang dekat pada-Nya. Ia ingin penghiburanku dan untuk alasan inilah, Ia akan membagikan kesedihan-kesedihan-Nya.

Yesus, Cinta-ku, di dalam penderitaanku, aku mencari Hati-Mu untuk beristirahat dan di dalam penderitaan-Mu aku berharap untuk membuat pemulihan bersama dengan penderitaanku. Dengan pertukaran ini, semoga aku menjadi malaikat penghibur-Mu.


DOA SYUKUR
Di akhir setiap doa Penderitaan di Taman

O Tuhanku yang termanis, aku berterimakasih kepada-MU karena telah senang menjadikan aku teman-MU setidaknya selama satu jam selama penderitaan-MU yang luar biasa di kebun. Oh, Yesus yang baik, betapa sedikit kenyamanan yang Engkau temukan dalamku. Namun, cinta-MU yang tak terbatas dan kasih amal yang melimpah membuat Engkau merasa lega bahkan hanya dengan sedikit kasih sayang yang ditunjukkan makhluk ciptaan-MU itu kepada-MU. Aku tidak akan pernah melupakan pemandangan akan Engkau yang patut disembah itu; gemetar, terhantam, hancur, dipermalukan dalam debu, dan semua ditutupi dengan keringat darah-MU, dalam kengerian gelap Getsemani! O Yesus, aku telah mengalami hal itu untuk menyertai Engkau dalam penderitaan-MU, merasakan seteguk kesusahan Hati Ilahi-MU yang menyedihkan adalah keberuntungan terbesar yang bisa dimiliki seseorang di bumi.

O Yesus, aku dengan sukacita menanggalkan segala kesia-siaan dan keduniawian. Aku hanya menginginkan Engkau, Tuhanku yang tertindas, sengsara, menderita. Dari taman ini, ke Kalvari, aku selalu ingin menjadi teman setia dan teman manis-MU.

O Yesus, jadikanlah aku tertawan bersama-MU, dan terseret ke pengadilan bersama-MU. Biarkan aku berbagi dalam aniaya, penghinaan, ludahan dan tamparan musuh-MU untuk menutupi Engkau. Bawa aku dari Pilatus ke Herodes dan kembali ke Pilatus lagi. Ikatkan aku di tiang bersama-MU, dan biarkan aku merasakan bagian dari cambukan-MU. Yesus, tusuklah aku dengan beberapa duri-MU. Biarkan aku dijatuhi hukuman mati dengan penyaliban bersama-MU: Engkau, sebagai korban cinta bagiku, dan aku sebagai korban penebusan akan dosa-dosa-ku.

Berikanlah aku bagian dari orang Kirene itu, untuk mengikuti Engkau ke Kalvari; dan di sana, biarlah aku dipaku pada Salib bersama-MU, dan kemudian menderita dan wafat bersama Engkau.

O Bunda yang berduka, engkau telah menolong aku bersimpati dengan penderitaan Yesus di taman. Tolonglah aku sekarang untuk disalib bersamamu pada Salib yang sama, salib Yesus, dan untuk mengetahui bagaimana mempersembahkan kepada-NYA perbaikan-perbaikan yang sangat berarti dengan jasa-jasa yang sama akan sengsara dan kematian-NYA di salib. Amin.


DOA SYUKUR DI SETIAP JAM

Yesus-ku yang terkasih, Engkau telah memanggil aku pada Jam Sengsara-MU ini untuk menemani-MU – dan aku telah datang. Tampaknya aku telah mendengarkan, derita dan kesedihan, doa, penebusan dan sengsara-MU. Dengan suara-suara-MU yang paling mengasihi dan fasih, Engkau memohon keselamatan bagi jiwa-jiwa. Aku mencoba untuk mengikuti Engkau di dalam segala hal. Kini, aku berhutang pada-MU perasaan hatiku “Terimakasih” dan “Aku memberkati-Mu.”

Ya, O Yesus, aku mengulangi “Terimakasih” ribuan dan ribuan kali. Aku memberkati-Mu untuk semua yang telah Engkau lakukan dan telah Engkau derita bagiku dan bagi semua orang. Aku berterimakasih dan aku memberkati-Mu untuk setiap tetes Darah yang Kautumpahkan. Aku berterimakasih untuk setiap helaan nafas, untuk setiap detak jantung, dan setiap langkah-MU. Aku berterimakasih untuk setiap kata, pandangan, penderitaan dan amukan yang telah Engkau alami. Dalam semuanya, O Yesus-ku, aku berharap untuk memberikan-MU “Terimakasih” dan “aku memberkati-Mu” milik-ku. O Yesusku, biarlah jiwaku mengirimkan aliran syukur dan berkat bagi-MU yang terus menerus – untuk menarik bagi kami semua aliran limpah berkat dan rahmat-MU. Aku mohon, O Yesus, tekanlah aku di Hati-MU, dan dengan tangan-tangan-MU yang kudus materaikan setiap partikel keberadaanku dengan “Aku memberkatimu” daripada-Mu, sehingga tidak ada yang lain selain himne terus menerus bagi-MU yang berasal dariku.”

Dengan demikian aku meninggalkan keberadaanku di dalam Engkau, untuk mengikuti engkau di dalam setiap apa yang Kau-lakukan; lebih baik lagi, Engkau akan begitu hidup di dalam aku sehingga aku akan meninggalkan pikiran-pikiranku di dalam Engkau untuk membela Engkau dari musuh-musuh-MU, nafas-nafasku sebagai teman setia, detak jantungku untuk mengingatkan “Aku cinta pada-MU” milikku, dan untuk memberikan pada-MU cinta dimana orang lain menolak untuk mencintai-MU; aku akan memberikan kepada-MU tetesan-tetesan darahku untuk menebus dan mengembalikan hormat dan salam yang disangkal oleh musuh-musuh-MU dengan penghinaan-penghinaan dan pelanggaran-pelanggaran. Aku akan meninggalkan seluruh keberadaanku sebagai seorang penjaga.

Cinta-ku tersayang, saat aku harus melakukan kewajiban-kewajibanku, aku tetap akan tinggal di dalam Hati-MU. Aku takut meninggalkannya. Tidakkah hal itu benar bahwa Engkau akan menjagaku di sini? Detak-detak jantung kita akan terus bersentuhan sehingga Engkau akan memberikan aku kehidupan, cinta dan persatuan yang dekat dan tak terpisahkan bersama-MU.

Yesus, jika Engkau melihat bahwa dari waktu ke waktu aku akan terpisah daripada-MU, biarlah detak jantung-MU mempercepat detak jantungku. Biarlah tangan-tangan-MU menekanku lebih dekat pada Hati-MU; biarlah mata-MU melihat aku dan menyayat aku dengan cahaya api sehingga aku dapat merasakan kehadiran-MU dan segera kembali ke dalam persatuan dengan-MU.

O Yesus-ku, berjagalah sehingga Aku tidak akan melelahkan-MU. Aku mohon pada-MU, jagalah aku. O berikanlah aku sebuah cium, peluklah aku, dan berkatilah aku! Berikanlah tangan-tangan-MU yang maha kudus sehingga aku dapat melakukan segala sesuatu yang harus kulakukan untuk bersatu dengan-MU! Yesus-ku, berikanlah aku cium Kasih Ilahi, peluklah aku dan berkatilah aku; aku akan mencium Hati-MU yang memabukkan dan beristirahat di dalam Engkau.


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.